Bangsa Indonesia yang telah mempunyai dasar falsafah luhur, tentunya merupakan lahan mudah untuk mengembangkan agama apapun dalam arti lebih mudah membentuk atau memantapkan aklaq yang tinggi dan budi mulia melalui budaya bangsa sendiri.
Untuk mewujudkan impian bangsa Indonesia yang adil dan makmur dengan tiadanya diskriminasi dalam segala bentuk dan tiadanya pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM). Untuk itu Indonesia harus mempunyai pemimpin yang memenuhi persyaratan yang tertuang didalam ; “ HASTA BRATA “ (delapan laku/watak) Antara lain :
1. Watak Kisma/Tanah : Seorang pemimpin harus selalu mempunyai rasa welas dan asih kepada siapa saja yg membutuhkannya. Sebagaimana watak tanah selalu akan memberikan hasil pada siapa saja yang menanaminya.
2. Watak Tirta/Air : Seorang pemimpin harus bertindak adil, kepada siapa saja, selalu bersahaja tidak menyombongkan diri atau tidak sombong dan dapat menerima pendapat orang lain.
3. Watak Samirana/Angin : Seorang pemimpin selalu memperhatikan bawahannya dan menempatkan dirinya dimanapun ia berada, seperti angin yang menelusuri luasnya alam di sekitarnya.
4. Watak Samodra/Lautan : Seorang pemimpin harus luas cara berpikirnya dan mempunyai kesabaran serta mampu mengatasi segala persoalan baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan semuanya diatasi dengan penuh kebijaksanaan, seperti samodra raya yang mampu menampung segala masukan dan tak pernah meluber/tumpah.
5. Watak Candra/Bulan : Seorang pemimpin ha rus Selalu memberi penerangan/pencerahan kehidupan kepada bawahannya atau keluarganya dan meningkatkan kepandaian rakyatnya sampai ke kawulo alit dan terpencil untuk mewujudkan pemerataan dalam kehidupan pada kawulonya/rakyatnya/bangsanya.
6. Watak Baskara/Matahari : Seorang pemimpin harus selalu memberi kekuatan kepada para kawulonya/rakyatnya yang membutuh kan demi terwujudnya kesejahteraan rakyat kecil/kawulo alit.
7. Watak Dahana/Api : Seorang pemimpin harus selalu adil dan jujur dalam memutuskan hukuman bagi kawulo/rakyat yang melanggar hukum, tidak memandang derajad, pangkat dan kedudukannya, semuanya diperlakukan sama dalam hukum tidak pandang bulu dalam pengetrapannya.
8. Watak Kartika/Bintang : Seorang pemimpin harus teguh dan sentosa dalam pendiriannya yang tidak mudah digoyahkan oleh angin. Sabdha pendita ratu tan kena wola-wali, artinya harus menepati pada janji yang diucapkan tidak boleh bohong atau membohongi rakyatnya/kawulonya.
Kata-kata “ ADI LUHUNG “ artinya kata-kata yang mempunyai makna tinggi/luhur, banyak bertebaran dalam falsafah Jawa yang berkembang menjadi falsafah bangsa Indonesia, seperti :
“ OJO NJIWIT YEN ORA GELEM DI JIWIT ” ( jangan menyakiti orang kalau tidak mau disakiti ) Intinya mengajak pada perdamaian dalam hidup bersama, dengan tanpa membedakan keyakinannya atau warna kulitnya, jangan membuat kecewa hati orang lain jika tidak mau dikecewakan hatinya.
“ OJO GAWE GELANING ATINING LIYAN “ (jangan membuat kecewa hatinya orang lain) Falsafah ini mengajak untuk menjaga perasaan hati atau bertoleransi dengan orang lain yang intinya juga mengajak perdamaian, menghindarkan pertentangan maupun perbuatan tercela lainnya, sehingga dapat menyebabkan orang lain menjadi kecewa karena perbuatannya.
“ MENANG TANPA NGASORAKE “ ( menang tidak membuat malu orang yang dikalahkan ) Menyelesaikan perkara atau masalah dengan perundingan yang didasari pada niat baik un tuk tidak saling merugikan satu sama lainnya, sehingga tidak membuat malu orang lain karena masing-masing harkat dan martabatnya merasa dihargai dengan falsafahnya :
“NGLURUK TANPA BALA “ ( berjuang tanpa harus menunggu dukungan ).
“ PERANG TANPA TANDING “ ( menyelesaikan masalah dengan cara damai ).
“SAKTI TANPA AJI” ( jadi teladan tanpa kekuasaan/kedudukan).
“SUGIH TANPA BANDA” ( selalu mensyukuri karunia Allah ).
“ TEPO SELIRO “ ( tenggang rasa – tahu diri – menghargai hak orang lain ) Seluruh falsafah tersebut mempunyai tujuan agar manusia didalam setiap tingkah lakunya untuk selalu menjaga lidahnya atau ucapannya yang buruk atau yang dapat menimbulkan pertentangan dengan orang lain atau membuat orang merasa sakit hatinya atau kecewa.
“MANGAN ORA MANGAN YEN NGUMPUL” (makan tidak makan asal bersatu). mempunyai makna “meskipun kita ada perselisihan paham bagaimananpun juga besarnya, kita tetap bersatu dalam suatu keluarga” kalau diperluas artinya ” Meskipun kita saling berbeda paham, suku, agama dan kepercayaan, tetapi kita tetap harus bersatu dalam wadah NKRI’ artinyA “BHINEKA TUNGGAL IKA DALAM WADAH NKRI’.
Posting by ; Djawara Putra Petir, MP., SH., MH. | Advokat & Lawyer
Reposting by : The United Indonesian Indie Revolution
Buah Nanas Madu
11 tahun yang lalu

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Telah berpartisipasi untuk memajukan seni budaya bangsa ( perkembangan music ) di tanah air dan telah membuktikan kecintaan kita pada bumi pertiwi.