Gagasan ini secara tiba-tiba muncul kembali di saat menjalankan event MTQ ke 31 tingkat propinsi Kaltim 2009, di kota Bontang.
Terdapat ragam kesenian islami yang bisa di kemas ulang ( re-packaging ), untuk dijadikan sebagai media syiar. Re - Packaging ini yang menjadikan kesenian islam mampu bersaing dalam industri musik, baik di tanah iar maupun di macanegara. Re-peckeging ini meliputi : aransemen musik, syair lagu, stage performance, recording ( mixing, mastering dll ), hingga sampai pada lavel media promo yang harus termenej dg bagus.
Sebagai contoh adalah kesenian Rebana, sholawatan, Hadroh, dan lain-lain belum di tangani dengan maximal oleh para pelaku industri musik islam. Padahal bahan bakunya cukup potensial di berbagai daerah baik di pesantren maupun di daerah-daerah yang basic islamnya kuat.
Secara pribadi, persoalan ini benar-benar menggugah nurani. Bagaimana agar seni dan budaya islam dapat bangkit dari ketertinggalan. Mungkinkah perlu diadakan festival Rebana, Sholawatan, Hadroh dengan lebih serius ? serius dalam konteks hingga sampai pada penggarapan recording, video clip dan promonya. Mungkinkah diadakan Art Mosleem Award ? semacam malam anugerah penghargaan terhadap pelaku seni dan budaya islam yg berprestasi ? lalu siapakah yang pantas untuk memberikan reward tersebut ?
Jika perkembangan dunia novel islam telah bangkit, dan mulai di sambut dg baik oleh kawan-kawan cineas muda ( Film ). Maka apa yg harus dilakukan oleh kawan-kawan lain yang bergerak dalam bidang seni dan budaya islam sebagaimana tersebut diatas ? mungkin kawan-kawan muda islam harus merapatkan barisan guna menyatukan visi dan misi menuju arah pergerakan pemuda islam yang lebih terarah dan terprogram.
• Saatnya kebangkitan pemuda islam di satukan.
• Saatnya kebangkita pemuda nasional di kumandangkan.
• Dan saatnya kebangkitan seni dan budaya nusantara di dengungan.
Mungkin saatnya kita melepaskan identitas aliran, saatnya melepaskan jubah idealisme, guna meleburkan semangat persatuan dan ukuwah islamiyah serta ukuwah watoniyah. Mengapa ? karena tiada yang maha benar selain Dia, tiada yang maha pintar dan kreative selain Dia. Menghacurkan ke AKU an pada diri tiap-tiap pemimpin organisasi kepemudaan. Baik moslem, non moslem maupun ormas ataupun parpol sekalipun.
Mungkin terlalu klasik kalimat ini “ BERSATU KITA TEGUH DAN BERCERAI KITA RUNTUH “. Namun demikian saya masih meyakininya. Hanya kekuatan bersatulah yang akan menjadikan kita semua bangkin dari keterpurukan. Bangkit dari neo-kolonialisme menuju kemerdekaan yang sesungguhnya. Dan ini selaras dengan propaganda para Founding Father bangsa kita. Melalui semangat persatuan dan kesatuan inilah bangsa ini terlepas dari penjajahan pada saat itu.
Lalu bagaimana dengan keadaan saat ini ?
Kita belum MERDEKA !!! dan kita masih TERJAJAH !!!
Pendidikan kita masih terjajah oleh konsep-konsep yang mengglobal. Pedidikan kita belum mengakomodir kearifan lokal. Pendidikan kita belum mampu menjadikan anak bangsa bangga dengan dirinya, budayanya, sejarahnya, bangsanya.
Budaya kita masih terjajah oleh media barat yang mengagungkan hingar bingar materialisme.
Agama kita juga masih terjajah oleh sekularisme yang menyesatkan.
Politik kita juga masih terjajah pada kepentingan segelintir orang dan golongan. Dimana politik yang mengedepankan kepentingan dan keberpihakan pada seluruh rakyat pada saat ini ?
Ekonomi kita juga masih terjajah dengan ekonomi kapitalis yang telah meluluhlantak-kan kaum minoritas. Dimana letak ekonomi kerakyatan yang di dengungkan ? Jika Bung Karno sempat mengajarkan kita tentang apa yang di sebut dengan MARKHAENISME. Maka sesungguhnya sebelum itu semua lahir, Kie Noto Sabdo juga telah mengajarkan apa yang di sebut dengan Ekonomi Gotong Royong dan juga Lumbung Desa. Inti dari ajaran itu sebenarnya adalah bagaimana kita secara pribadi memulai untuk membentuk ketahanan sandang, pangan dan papan terlebih dahulu. Sebelum bangkit untuk mengembangkan usaha apapun. Bagaimana kita mau bangkit jika pangan saja kita masih kekurangan, sandang saja Cuma satu di badan dan papan saja masih ngontrak ? hiks…2x menyebalkan sekali…..
So…, mari kita merdekakan diri kita sendiri terlebih dahulu agar kita bisa lepas dari penjajahan kebodohan, penjajahan ekonomi, penjajahan spiritual, agar kita bisa merdeka dengan sesungguhnya. Kita bisa merdeka untuk ber-existensi, ber-aktualisasi, ber-expresi.
Dan esensi dari kemerdekaan yang sesungguhnya adalah kita mampu menjadikan orang lain merdeka dan tdk lagi terjajah oleh hal-hal tersebut diatas.
Selamat datang era perjuangan!
Selamat datang era pengabdian!


0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Telah berpartisipasi untuk memajukan seni budaya bangsa ( perkembangan music ) di tanah air dan telah membuktikan kecintaan kita pada bumi pertiwi.